Senin, 05 November 2007
Minggu, 04 November 2007
Senin, 01 Oktober 2007
Senin, 10 September 2007
Menggapai CinTa ALLAH SWT
Dalam amal ubudiyah, cinta (mahbbah) menempati derajat yang paling tinggi. Mencintai Allah dan rasul-Nya berarti melaksanakan seluruh amanat dan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah Rasul, disertai luapan kalbu yang dipenuhi rasa cinta. Pada mulanya, perjalanan cinta seorang hamba menapaki derajat mencintai Allah. Namun pada akhir perjalanan ruhaninya, sang hamba mendapatkan derajat wahana yang dicintaiNya. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah, Yang Maha Agung dan Mulia menjumpaiku - yakni dalam tidurku - kemudian berfirman kepadaku, "Wahai Muhammad, katakanlah : "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mencintai-Mu, mencintai siapa saja yang mencintai-Mu, serta mencintai perbuatan yang mengantarkan aku untuk mencintai-Mu."
Dalam buku "Mahabbatullah" (mencintai Allah), Imum Ibnu Qayyim menuturkan tahapan-tahapan menuju wahana cinta Allah. Bahwasanya cinta senantiasa berkaitan dcngan amal. Dan amal sangat tergantung pada keikhlasan kalbu, disanalah cinta Allah berlabuh. Itu karena Cinta Allah merupakan refleksi dari disiplin keimanan dan kecintaan yang terpuji, bukan kecintaan yagn tercela yang menjerumuskan kepada cinta selain Allah. Tahapan-tahapan menuju wahana cinta kepada Allah adalah sebagai berikut:
1. Membaca al-Qur'an dengan merenung dan memahami kandungan maknanya sesuai dengan maksudnya yang benar. Itu tidaklain adalah renungan seorang hamba Allah yang hafal danmampu menjelaskan al-Qur'an agar dipahami maksudnya sesuai dengan kehendak Allah swt. Al-Qur'an merupakan kemuliaan bagi manusia yang tidak bisa ditandingi dengan kemuliaan apapun. Ibnu Sholah mengatakan "Membaca Al-Qur'an merupakan kemuliaan, dengan kemuliaan itu Allah ingin memuliakan manusia di atas mahluk lainnya. Bahkan malaikat pun tidak pernah diberi kemuliaan semacam itu, malah mereka selalu berusaha mendengarkannya dari manusia".
2. Taqarub kepada Allah swt, melalui ibadah-ibadah sunnah setalah melakukan ibadah-ibadah fardlu. Orang yang menunaikan ibadah-ibadah fardlu dengan sempurna mereka itu adalah yang mencintai Allah. Sementara orang yang menunaikannya kemudian menambahnya dengan ibadah-ibadah sunnah, mereka itu adalah orang yang dicintai Allah. Ibadah-ibadah sunnah untuk mendekatkan diri kepada Allah, diantaranya adalah: shalat-shalat sunnah, puasa-puasa sunnah,sedekah sunnah dan amalan-amalan sunnah dalam Haji dan Umrah.
3. Melanggengkan dzikir kepada Allah dalam segala tingkah laku, melaui lisan, kalbu, amal dan perilaku. Kadsar kecintaan seseorang terhadap Allah tergantung kepada kadar dzikirnya kepadaNya. Dzikir kepada Allah merupakan syiar bagi mereka yang mencintai Allah dan orang yang dicintai Allah. Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: "Sesungguhnya Allah aza wajalla berfirman :"Aku bersama hambaKu,s elama ia mengingatKu dan kedua bibirnya bergerak (untuk berdzikir) kepadaKu".
4. Cinta kepada Allah melebihi cinta kepada diri sendiri. Memprioritaskan cinta kepada Allah di atas cinta kepada diri sendiri, meskipun dibayang-bayangi oleh hawa nafsu yang selalu mengajak lebih mencintai diri sendiri. Artinya ia rela mencintai Allah meskipun beresiko tidak dicintai oleh mahluk. Inilah derajat para Nabi, diatas itu derajat para Rasul dan diatasnya lagi derajat para rasulul Ulul Azmi, lalu yang paling tinggi adalah derajat Rasulullah Muhammad s.a.w. sebab beliau mampu melawan kehendak dunia seisinya demi cintanya kepada Allah.
5. Kontinuitas musyahadah (menyaksikan) dan ma'rifat (mengenal) Allah s.w.t. Penglihatan kalbunya terarah kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya. Kesadaran dan penglihatan kalbunya berkelana di taman ma'rifatullah (pengenalan Allah yang paling tinggi). Barang siapa ma'rifat kepada asma-asma Allah, sifat-sifat dan af'al-af'al Allah dengan penyaksian dan kesadaran yang mendalam, niscaya akan dicintai Allah.
6. Menghayati kebaikan, kebesaran dan nikmat Allah lahir dan batin akan mengantarkan kepada cinta hakiki kepadaNya. Tidak ada pemberi nikmat dan kebaikan yang hakiki selain Allah. Oleh sebab itu, tidak ada satu pun kekasih yang hakiki bagi seorang hamba yang mampu melihat dengan mata batinnya, kecuali Allah s.w.t. Sudah menjadi sifat manusia, ia akan mencintai orang baik, lembut dan suka menolongnya dan bahkan tidak mustahil ia akan menjadikannya sebagai kekasih. Siapa yang memberi kita semua nikmat ini? Dengan menghayati kebaikan dan kebesaran Allah secara lahir dan batin, akan mengantarkan kepada rasa cinta yang mendalam kepadaNya.
7. Ketertundukan hati secara total di hadapan Allah, inilah yang disebut dengan khusyu'. Hati yang khusyu' tidak hanya dalam melakukan sholat tetapi dalam semua aspek kehidupan ini, akan mengantarkan kepada cinta Allah yang hakiki.
8. Menyendiri bersama Allah ketika Dia turun. Kapankan itu? Yaitu saat sepertiga terakhir malam. Di saat itulah Allah s.w.t. turun ke dunia dan di saat itulah saat yang paling berharga bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan melaksanakan sholat malam agar mendapatkan cinta Allah.
9. Bergaul dengan orang-orang yang mencintai Allah, maka iapun akan mendapatkan cinta Allah s.w.t.
10. Menjauhi sebab-sebab yang menghalangi komunikai kalbu dan Al-Khaliq, Allah subhanahu wataala.
- 10 WaSiAT UnTuK IsTrI
Istri memegang peranan yang sangat penting dalam istana keluarganya. Maka ia
dituntut untuk memahami peranan tersebut lalu mengaplikasikannya dalam
kehidupan berkeluarga. Berikut ada beberapa wasiat untuk mereka yang berhasrat
menjadi istri yang mendambakan keluarga bahagia. Semoga bisa bermanfaat bagi
kita semua. Amin.
1.Takwa kepada Allah dan menjauhi maksiat
Bila engkau ingin kesengsaraan bersarang di rumahmu dan bertunas, maka
bermaksiatlah kepada Allah. Sesungguhnya kemaksiatan menghancurkan negeri dan
menggoncang kerajaan. Oleh karena itu jangan engkau goncangkan rumahmu dengan
berbuat maksiat kepada Allah.
Wahai hamba Allah……..jagalah Allah maka Dia akan menjagamu beserta keluarga dan
rumahmu. Sesungguhnya ketaatan akan mengumpulkan hati dan mempersatukannya,
sedangkan kemaksiatan akan mengoyak hati dan menceraiberaikan keutuhannya.
Karena itulah, salah seorang wanita shalihah jika mendapatkan sikap keras dan
berpaling dari suaminya, ia berkata:"Aku mohon ampun kepada Allah….itu terjadi
karena perbuatan tanganku (kesalahanku)…."Maka hati-hatilah wahai saudariku
muslimah dari berbuat maksiat, khususnya:
-Meninggalkan shalat atau mengakhirkannya atau menunaikannya dengan cara yang
tidak benar.
-Duduk di majlis ghibah dan namimah, berbuat riya dan sum'ah.
-Menjelekkan dan mengejek orang lain. Allah berfirman, "Wahai orang-orang yang
briman janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi
mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang menolok-olokkan) dan
janganlah wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi
wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang
mengolok-olokkan"(QS. Al Hujurat: 11).
-Keluar menuju pasar tanpa kepentingan yang sangat mendesak dan tanpa
didampingi mahram. Rasulullah bersabda:"Negeri yang paling dicintai Allah
adalah masjid-masjidnya dan negeri yang paling dibenci Allah adalah
pasar-pasarnya"(HR. Muslim).
-Mendidik anak dengan pendidikan barat atau menyerahkan pendidikan anak kepada
para pambantu dan pendidik-pendidik yang kafir.
-Meniru wanita-wanita kafir. Rasulullah bersabda:"Siapa yang menyerupai suatu
kaum maka ia termasuk golongan mereka"(HR. Imam Ahmad dan Abu Daud serta
dishahihkan Al-Albany).
-Membiarkan suami dalam kemaksiatannya.
-Tabarruj (pamer kecantikan) dan sufur (membuka wajah).
-Membiarkan sopir dan pembantu masuk ke dalam rumah tanpa kepentingan yang
mendesak.
2.Berupaya mengenal dan memahami suami
Hendaknya engkau berupaya memahami suamimu. Apa –apa yang ia sukai, berusahalah
memenuhinya dan apa-apa yang ia benci, berupayalah untuk menjauhinya dengan
catatan selama tidak dalam perkara maksiat kepada Allah karena tidak ada
ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khalik (Allah `Azza Wajalla).
3. Ketaatan yang nyata kepada suami dan bergaul dengan baik.
Sesungguhnya hak suami atas istrinya itu besar. Rasulullah bersabda:"Seandainya
aku boleh memerintahkanku seseorang sujud kepada orang lain niscaya aku
perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya"(HR. Imam Ahmad dan Tirmidzi,
dishahihkan oleh Al-Albany).
Hak suami yang pertama adalah ditaati dalam perkara yang bukan maksiat kepada
Allah dan baik dalam bergaul dengannya serta tidak mendurhakainya. Rasulullah
bersabda:"Dua golongan yang shalatnya tidak akan melewati kepalanya, yaitu
budak yang lari dari tuannya hingga ia kembali dan istri yang durhaka kepada
suaminya hingga ia kembali"(HR. Thabrani dan Hakim, dishahihkan oleh Al-Albany).
Ketahuilah, engkau termasuk penduduk surga dengan izin Allah, jika engkau
bertakwa kepada Allah dan taat kepada suamimu. Dengan ketaatanmu pada suami dan
baiknya pergaulanmu terhadapnya, engkau akan menjdai sebaik-baik wanita (dengan
izin Allah).
4.Bersikap qanaah (merasa cukup)
Kami meninginkan wanita muslimah ridha dengan apa yang diberikan untuknya baik
itu sedikit ataupun banyak.
Maka janganlah ia menuntut di luar kesanggupan suaminya atau meminta sesuatu
yang tidak perlu. Renungkanlah wahai saudariku muslimah, adabnya wanita salaf
radhiallahu `anhunna…Salah seorang dari mereka bila suaminya hendak keluar
rumah ia mewasiatkan satu wasiat kepadanya. Apakah itu??? Ia berkata pada
suaminya:"Hati-hatilah engkau wahai suamiku dari penghasilan yang haram, karena
kami bisa bersabar dari rasa lapar namun kami tidak bisa bersabar dari api
neraka…"
5. Baik dalam mengatur urusan rumah tangga, seperti mendidik anak-anak dan
tidak menyerahkannya pada pembantu, menjaga kebersihan rumah dan menatanya
dengan baik dan menyiapkan makan pada waktunya.
Termasuk pengaturan yang baik adalah istri membelanjakan harta suaminya pada
tempatnya (dengan baik), maka ia tidak berlebih-lebihan dalam perhiasan dan
alat-alat kecantikan.
6.Baik dalam bergaul dengan keluarga suami dan kerabat-kerabatnya, khususnya
dengan ibu suami sebagai orang yang paling dekat dengannya.
Wajib bagimu untuk menampakkan kecintaan kepadanya, bersikap lembut,
menunjukkan rasa hormat, bersabar atas kekeliruannya dan engkau melaksanakan
semua perintahnya selama tidak bermaksiat kepada Allah semampumu.
7.Menyertai suami dalam perasaannya dan turut merasakan duka cita dan
kesedihannya.
Jika engkau ingin hidup dalam hati suamimu, maka sertailah ia dalam duka cita
dan kesedihannya. Renungkanlah wahai saudariku kedudukan Ummul Mukminin,
Khadijah radhiallahu `anha, dalam hati Rasulullah walaupun ia telah meninggal
dunia.. Kecintaan beliau kepada Khadijah tetap bersemi sepanjang hidup beliau,
kenangan bersama Khadijah tidak terkikis oleh panjangnya masa. Bahkan terus
mengenangnya dan bertutur tentang andilnya dalam ujian, kesulitan dan musibah
yang dihadapi. Seorangpun tidak akan lupa perkataannya yang masyur sehingga
menjadikan Rasulullah merasakan ketenangan setelah terguncang dan merasa
bahagia setelah bersedih hati ketika turun wahyu pada kali pertama:" Demi
Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Karena sungguh engkau
menyambung silaturahmi, menaggung orang lemah, menutup kebutuhan orang yang
tidak punya dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran".(HR. Mutafaq
alaihi, Bukhary dan Muslim).
8.Bersyukur (berterima kasih) kepada suami atas kebaikannya dan tidak melupakan
keutamaannya.
Wahai istri yang mulia! Rasa terima kasih pada suami dapat kau tunjukkan dengan
senyuman manis di wajahmu yang menimbulkan kesan di hatinya, hingga terasa
ringan baginya kesulitan yang dijumpai dalam pekerjaannya. Atau engkau
ungkapkan dengan kata-kata cinta yang memikat yang dapat menyegarkan kembali
cintamu di hatinya. Atau memaafkan kesalahan dan kekurangannya dalam menunaikan
hak-hakmu dengan membandingkan lautan keutamaan dan kebaikannya kepadamu.
9.Menyimpan rahasia suami dan menutupi kekurangannya (aibnya).
Istri adalah tempat rahasia suami dan orang yang paling dekat dengannya serta
paling tahu kekhususannya. Bila menyebarkan rahasia merupakan sifat yang
tercela untuk dilakukan oleh siapapun, maka dari sisi istri lebih besar dan
lebih jelek lagi. Saudariku, simpanlah rahasia-rahasia suamimu, tutuplah aibnya
dan jangan engkau tampakkan kecuali karena maslahat yang syar'I seperti
mengadukan perbuatan dhalim kepada Hakim atau Mufti atau orang yang engkau
harapkan nasehatnya.
10.Kecerdasan dan kecerdikan serta berhati-hati dari kesalahan.
Termasuk kesalahan adalah: Seorang istri menceritakan dan menggambarkan
kecantikan sebagian wanita yang dikenalnya kepada suaminya. Padahal Rasulullah
telah melarang hal itu dalam sabdanya:"Janganlah seorang wanita bergaul dengan
wanita lain lalu mensifatkan wanita itu kepada suaminya sehingga seakan-akan
suaminya melihatnya"(HR. Bukhary dalam An-Nikah).
Adapted from : Rumah tangga tanpa problema, Syaikh Mazin Bin Abdul Karim Al-
Farih.
"Untuk para istri yang berhasrat menjadi penyejuk hati dan mata suaminya.
Semoga Allah memeliharamu dalam naungan kasih sayang dan rahmatNya. Amin.
Menilai KePribadian MuSlimAh
KEUTAMAAN HIJAB
· HIJAB ITU ADALAH KETAATAN KEPADA ALLAH DAN RASUL.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَمَا كَانَ لمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إذاَ قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أمْرًا أنْ يَكُونَ لهُمُ الخِيَرَةُ مِنْ أمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 36)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan kaum wanita untuk menggunakan hijab sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluan-nya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Q.S An-Nur: 31)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الجَاهِلِيَّةِ الأُولَى
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah.” (Q.S. Al-Ahzab: 33)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ
“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 53)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ
“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Wanita itu aurat” maksudnya adalah bahwa ia harus menutupi tubuhnya.
· HIJAB ITU ‘IFFAH (KEMULIAAN)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kewajiban menggunakan hijab sebagai tanda ‘Iffah (menahan diri dari maksiat).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ياَ أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أدْنَى أنْ يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ
“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)
Itu karena mereka menutupi tubuh mereka untuk menghindari dan menahan diri dari perbuatan jelek (dosa), “karena itu mereka tidak diganggu”. Maka orang-orang fasik tidak akan mengganggu mereka. Dan pada firman Allah “karena itu mereka tidak diganggu” sebagai isyarat bahwa mengetahui keindahan tubuh wanita adalah suatu bentuk gangguan berupa fitnah dan kejahatan bagi mereka.
· HIJAB ITU KESUCIAN
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ
“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 53)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati hijab sebagai kesucian bagi hati orang-orang mu’min, laki-laki maupun perempuan. Karena mata bila tidak melihat maka hatipun tidak berhasrat. Pada saat seperti ini, maka hati yang tidak melihat akan lebih suci. Ketiadaan fitnah pada saat itu lebih nampak, karena hijab itu menghancurkan keinginan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ
“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.” (Q.S. Al-Ahzab: 32)
· HIJAB ITU PELINDUNG
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalambersabda:
(إنَّ اللهَ حَيِيٌّ سَتِيرٌ يُحِبُّ الحَيَاءَ وَالسِّتْرَ)
“Sesungguhnya Allah itu Malu dan Melindungi serta Menyukai rasa malu dan perlindungan”
Sabda beliau yang lain:
(( أيَّمَا اِمْرَأَةٍ نَزَعَتْ ثِيَابَهَا في غَيْرِ بَيْتِهَا خَرَقَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهَا سِتْرَهُ))
“Siapa saja di antara wanita yang melepaskan pakaiannya di selain rumahnya, maka Allah Azza wa Jalla telah mengoyak perlindungan rumah itu dari padanya.”
Jadi balasannya setimpal dengan perbuatannya.
· HIJAB ITU TAQWA
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ياَ بَنِي آدَمَ قَدْ أنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ
“Hai anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik.” (Q.S. Al-A’raaf: 26)
· HIJAB ITU IMAN
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berfirman kecuali kepada wanita-wanita beriman: “Dan katakanlah kepada wanita yang beriman.” (Q.S. An-Nur: 31). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Dan istri-istri orang beriman.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)
Dan ketika wanita-wanita dari Bani Tamim menemui Ummul Mu’minin, Aisyah ra dengan pakaian tipis, beliau berkata: “Jika kalian wanita-wanita beriman, maka (ketahuilah) bahwa ini bukanlah pakaian wanita-wanita beriman, dan jika kalian bukan wanita beriman, maka silahkan nikmati pakaian itu.”
· HIJAB ITU HAYA’ (RASA MALU)
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
((إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاءُ))
“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.”
Sabda beliau yang lain:
“Malu itu adalah bagian dari iman dan iman itu di surga.”
Sabda Rasul yang lain:
((الحَيَاءُ وَالإيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا ، فَإنْ رُفِعَ أحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَرُ))
“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.”
· HIJAB ITU GHIRAH (PERASAAN CEMBURU)
Hijab itu selaras dengan perasaan cemburu yang merupakan fitrah seorang laki-laki sempurna yang tidak senang dengan pandangan-pandangan khianat yang tertuju kepada istri dan anak wanitanya. Berapa banyak peperangan terjadi pada masa Jahiliyah dan masa Islam akibat cemburu atas seorang wanita dan untuk menjaga kehormatannya. Ali bin Abi Thalib Radiyallahu 'anhu berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa wanita-wanita kalian berdesak-desakan dengan laki-laki kafir orang ‘ajam (non Arab) di pasar-pasar, tidakkah kalian merasa cemburu? Sesungguhnya tidak ada kebaikan pada seseorang yang tidak memiliki perasaan cemburu.”
Beberapa syarat hijab yang harus terpenuhi:
1. Menutupi seluruh anggota tubuh wanita -berdasarkan pendapat yang paling rajih / terang
2. Hijab itu sendiri pada dasarnya bukan perhiasan.
3. Tebal dan tidak tipis atau trasparan.
4. Longgar dan tidak sempit atau ketat.
5. Tidak memakai wangi-wangian.
6. Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir.
7. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.
8. Tidak bermaksud memamerkannya kepada orang-orang.
JANGAN BERHIAS TERLALU BERLEBIHAN
Bila anda memperhatikan syarat-syarat tersebut di atas akan nampak bagi anda bahwa banyak di antara wanita-wanita sekarang ini yang menamakan diri sebagai wanita berjilbab, padahal pada hakekatnya mereka belum berjilbab. Mereka tidak menamakan jilbab dengan nama yang sebenarnya. Mereka menamakan Tabarruj sebagai hijab dan menamakan maksiat sebagai ketaatan.
Musuh-musuh kebangkitan Islam berusaha dengan sekuat tenaga menggelincirkan wanita itu, lalu Allah menggagalkan tipu daya mereka dan meneguhkan orang-orang Mu’min di atas ketaatan kepada Tuhannya. Mereka memanfaatkan wanita itu dengan cara-cara kotor untuk memalingkannya dari jalan Tuhan dengan memproduksi jilbab dalam berbagai bentuk dan menamakannya sebagai “jalan tengah” yang dengan itu ia akan mendapatkan ridha Tuhannya -sebagaimana pengakuan mereka- dan pada saat yang sama ia dapat beradaptasi dengan lingkungannya dan tetap menjaga kecantikannya.
KAMI DENGAR DAN KAMI TAAT
Seorang muslim yang jujur akan menerima perintah Tuhannya dan segera menerjemahkannya dalam amal nyata, karena cinta dan perhomatannya terhadap Islam, bangga dengan syariat-Nya, mendengar dan taat kepada sunnah nabi-Nya dan tidak peduli dengan keadaan orang-orang sesat yang berpaling dari kenyataan yang sebenarnya, serta lalai akan tempat kembali yang ia nantikan. Allah menafikan keimanan orang yang berpaling dari ketaatan kepada-Nya dan kepada rasul-Nya:
وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرْيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَمَا أُولَئِكَ بِالمُؤْمِنِينَ (47) وَإذَا دُعُوا إلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ (48) “
Dan mereka berkata:
“Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami menaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.” (Q.S. An-Nur: 47-48)
Firman Allah yang lain:
إنَّمَا كاَنَ قَوْلَ المُؤْمِنِينَ إذَا دُعُوا إلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ المُفْلِحُونَ (51) وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللهَ وَيَتَّقِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الفَائِزُونَ (52)
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (Q.S. An-Nur: 51-52)
Dari Shofiyah binti Syaibah berkata: “Ketika kami bersama Aisyah ra, beliau berkata: “Saya teringat akan wanita-wanita Quraisy dan keutamaan mereka.” Aisyah berkata: “Sesungguhnya wanita-wanita Quraisy memiliki keutamaan, dan demi Allah, saya tidak melihat wanita yang lebih percaya kepada kitab Allah dan lebih meyakini ayat-ayat-Nya melebihi wanita-wanita Anshor. Ketika turun kepada mereka ayat: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (Q.S. An-Nur: 31) Maka para suami segera mendatangi istri-istri mereka dan membacakan apa yang diturunkan Allah kepada mereka. Mereka membacakan ayat itu kepada istri, anak wanita, saudara wanita dan kaum kerabatnya. Dan tidak seorangpun di antara wanita itu kecuali segera berdiri mengambil kain gorden (tirai) dan menutupi kepala dan wajahnya, karena percaya dan iman kepada apa yang diturunkan Allah dalam kitab-Nya. Sehingga mereka (berjalan) di belakang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalamdengan kain penutup seakan-akan di atas kepalanya terdapat burung gagak.”
Renungan SUamI Istri
Untuk Calon Suami, renungkanlah...
Pernikahan menyingkap tabir rahasia
Sesungguhnya istri yang engkau nikahi
Tidaklah semulia Khadijah Khuwailid
Tidaklah setaqwa Al Humairo'
Pun tidak setabah Az Zahro
Justru istrimu hanyalah wanita akhir zaman yang berasa menjadi sholihah
Pernikahan mengajari kita kewajiban bersama
Istri menjadi bumi dan engkau langit yang menaunginya
Istri dikiaskan sebagai ternak dan engkaulah gembalanya
Istri adalah makmum dan engkau imamnya
Saat istri menjadi madu, teguklah sepuasmu
Ketika istri menjadi racun, tawarkanlah bisanya
Istri adalah tulang yang bengkok, berhati-hatilah bila meluruskannya
Pernikahan menyadarkan kita
Tentang perlunya iman dan taqwa
Untuk belajar merenda kesabaran
Dalam meraih Ridho Allah Ta'ala
Karena memiliki istri yang tak sebaik Ummahatul Mukminin
Justru akan menyadarkan dirimu dari khilaf
Engkau bukanlah Rasulullah SAW
Bukan pula Imam 'Ali Karomallahu wajhah
Namun engkau adalah...
Suami akhir zaman yang berusaha untuk menajdi sholih
Dan Untuk Calon Istri, renungkanlah...
Pernikahan membuka tabir rahasia
Sesungguhnya suami yang menikahimu
Tidaklah semulia Muhammad ibn Abdullah
Tidaklah setaqwa Ibrahim 'Alaihissalam
Tidak pula setabah Ayyub 'Alaihissalam
Atau pun segagah Musa 'Alaihissalam
Apalagi setampan Yusuf 'Alaihissalam
Justru suamimu hanyalah lelaki akhir zaman yang berasa membangun keturunan yang sholih
Pernikahan mengajari kita kewajiban bersama
Suami sebagai rumah dan engkau penghuninya
Suami adalah nahkoda dan engkau navigatornya
Suami bagaikan anak kecil yang nakal dan engkau adalah penuntun kenakalannya
Saat suami menjadi raja nikmatilah kemegahan singgasananya
Ketika suami menjadi bisa tawarkanlah racunnya
Seandainya suami menjadi pengemudi yang lancang sabarlah saat memperingatkannya
Pernikahan menyadarkan kita
Tentang perlunya iman dan taqwa
Untuk belajar merenda kesabaran
Dalam meraih Ridho Allah Ta'ala
Karena memiliki suami yang tak sebaik para Anbiya'
Justru akan menyadarkan dirimu dari khilaf
Engkau bukan Khodijah yang begitu sempurna dalam menjaga
Bukan pula Ibunda Hajar yang sangat setia dalam sengsara
Namun engkau adalah...
Istri akhir zaman yang berusaha untuk menajdi sholihah
Ya Robby,
Hidup hanya sekali, izinkanlah hamba menjadi Mujahidah
Dan mati hanyalah sekali, izinkan hamba menjadi Syahidah
Amin
TErmasUk YAng ManakAH ANda???
Siapakah orang yang sibuk ?
Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan waktu sholatnya,
seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman A.S.
Maka sempatkanlah bagimu untuk beribadah... dan bersegeralah !
Siapakah orang yang manis senyumannya ?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang ketika
ditimpa
musibah, lalu dia berucap "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun."
Kemudian berkata,"Ya Rabbi, Aku ridho dengan ketentuanMu ini", sambil
mengukir senyuman. Maka berbaik hatilah dan bersabar...
Siapakah orang yang kaya ?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada, dan
tidak
lupa akan kenikmatan dunia yang sementara ini.
Maka bersyukurlah atas nikmat yang kau terima dan berbagilah.. .
Siapakah orang yang miskin ?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada,
selalu
menumpuk-numpukkan harta.
Maka janganlah kau menjadi kikir juga dengki...
Siapakah orang yang rugi ?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan, namun
masih berat untuk melakukan ibadah dan amal-amal kebaikan.
Maka hargailah waktumu dan bersegeralah. ..
Siapakah orang yang paling cantik ?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.
Maka peliharalah akhlakmu dari dosa dan noda...
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas ?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati
membawa
amal-amal kebaikan, dimana kuburnya akan diluaskan sejauh mata
memandang.
Maka beramal shalehlah selagi sempat dan mampu...
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit ?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak
membawa amal-amal kebaikan, lalu kuburnya menghimpitnya.
Maka ingatlah akan kematian dan kehidupan setelah dunia...
Siapakah orang yang mempunyai akal ?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni surga kelak,
karena telah menggunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa
neraka.
Maka peliharalah akal sehatmu dan pergunakan semaksimal mungkin untuk
mengharap ridho-Nya...
Isteri yang sholihah
Isteri yang sholihah, dialah yang qanaah.
Yang tahu hari tak selalu cerah tapi dia tak berubah.
Istri yang sholihah itu tidak harus kaya, kalau pun kaya Alhamdulillah.
Dia juga tidak harus cantik, kalau pun cantik itu hadiah
Isteri yang sholihah itu adalah yang qana’ah, senangnya berada di rumah.
Keluar rumah hanya untuk belanja atau pergi bersamasuaminya.
Dia tahu bahan makanan telah mengalami kenaikan harga,
dan tidak menyusahkan suaminya dengan segala tuntutannya.
Ada juga memang wanita yang bekerja di luar rumah,
tapi yang sholihah, dia mau berhenti kerja kalau suaminya memerintahkannya,
dan tetap bekerja kalau suaminya meridhoinya.
Kau mungkin bingung bagaimana mungkin mendapatkan wanita shalihah
sementara sedari tadi aku terus berkata yang shalihah adalah yang qanaah,
sedangkan qanaah itu tidak tampak di mata.
Yang jelas, nggak usah muluk-muluk cari yang cantik,
karena yang cantik seperti bintang di langit
Mungkin dia mudah ditemukan, bahkan di gelap malam,
tetapi sadarilah dia tak mudah dijangkau tangan.
Ketika itu pun kau mungkin melihatnya berkilauan
tetapi sadarilah ketika siang dia menghilang.
Isteri yang sholihah itu seperti mutiara di dasar laut,
tak selalu putih terkadang terbungkus lumut.
Di dalam cangkangnya dia senang berada,
menjaga diri dan tak mudah digoda.
Kau mungkin harus menyelam untuk menemukannya.
Tapi kau akan tahu seberharga apa dia ketika kau mendapatkannya.
**
“Tiada kekayaan yg diambil seorang mukmin setelah takwa kepada Allah yang lebih baik dari istri sholihah.” [Hadits Riwayat Ibn Majah]
SIFAT SUAMI
Apa Yang Disukai Istri dari Suaminya?
Terkadang kita ingin tahu juga, apa yang membuat istri kita senang dalam kehidupan berumah-tangga. Berikut ini adalah satu versi rangkaian sikap dan sifat yang disukai seorang istri dari suaminya:
1. Penuh Pengertian
Seorang istri senang diperhatikan dan didengarkan. Ia senang suaminya memahami dan mengerti dirinya. Dalam suka dan dukanya. Dalam ceria dan sedihnya. Ia senang suami mengetahui perasaannya. Ia misalnya senang diberitahu pakaiannya yang mana yang paling disukai suaminya. Atau masakannya yang mana yang paling lezat bagi suaminya. Karenanya obrolan-obrolan ringan dan lembut amat dinanti-nanti seorang istri. Setiap kata yang keluar dari lidah dan bibirnya adalah pesan cinta yang ingin ia sampaikan. Dan ia ingin tahu bagaimana suaminya menanggapi pesan cintanya itu.
Tangisan seorang istri itu memiliki sekian banyak makna, bisa karena sedih, bisa karena marah, bisa karena terharu dan bahagia. Ia senang jika suaminya bersabar untuk mengenal setiap jenis air mata yang metetes dari matanya.
Pengertian ini menjadi inti dan landasan segala sikap menyenangkan yang mungkin dilakukan seorang suami terhadap istrinya.
2. Setia
Kesetiaan adalah syarat utama cinta sejati. Seorang istri ingin cinta suami itu hanya untuknya. Karenanya kecemburuan adalah bagian dari cinta.
Sapaan sayang di tengah kesibukan, walaupun hanya satu dua menit kata-kata yang disampaikan lewat telepon, walaupun hanya satu dua kalimat SMS, akan menjadi pengokoh kepercayaan. Hadiah yang diberikan: martabak kesukaannya, seikat bunga, atau sebuah jam tangan yang manis akan menguatkan cinta. Dan mengingat hari ulang tahun serta hari pernikahan akan menjadi bukti kesetiaan suami yang disukai seorang istri.
Tapi seorang istri yang baik akan mengatakan, "Jangan karena takut kepadaku, kakanda bersikap setia. Karena Allah Maha Melihat. Itu yang mesti menjadi landasan kesetiaan."
3. Sabar dan Pemaaf
Seorang istri akan amat bersyukur jika suaminya mau menerima dirinya apa adanya. Suaminya mampu memaafkan dan bersabar atas kekurangan yang ada pada dirinya. Ia butuh waktu untuk membina dirinya. Ia bahkan butuh waktu untuk memahami dirinya sendiri, ketika satu ketika ia tidak menjadi dirinya sendiri.
Seorang istri perlu mendapatkan nasihat, akan tetapi itu dilakukan dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Ini seperti pesan Ilahi: "Kemudian keadaan orang beriman itu adalah saling menasihati dalam kesabaran dan dalam kasih sayang." (QS. al-Balad); "Dan jika kalian memaafkan, tidak memarahi, dan mengampuni mereka, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang." (QS. at-Taghabun)
4. Teguh Hati dan Bersemangat
Seorang istri senang melihat suaminya senantiasa berteguh hati dan bersemangat dalam menyelesaikan berbagai tugas dan amanah. Ia senang suaminya dapat senantiasa prima menunaikan tugas-tugas di luar rumah dan sekaligus membantu menyelesaikan permasalahan di rumah. Karenanya seorang istri senang melihat suaminya akrab bercengkrama, bermain dengan anak-anaknya. Dan saat suami sesekali memasak untuk keluarga, ada sentuhan hangat menyentuh relung jiwa seorang istri.
Bagaimana jika suaminya berada dalam kondisi bete atau kehilangan semangat? Seorang istri akan menerima keadaan ini asalkan ia melihat suaminya berusaha keras untuk melepaskan diri dari keadaan lemah ini. Ia bahkan akan memberikan bantuan dan doa terbaik bagi suaminya.
5. Romantis
Seorang istri senang jika suaminya mampu memperlihatkan dan mengekspresikan cinta dan kasih sayang. Ia senang mendapati suaminya membangun suasana kondusif kasih sayang di rumah. Ia senang jika suaminya romantis.
Diantara ungkapan cinta suami-istri adalah dalam hubungan intim. Seorang istri senang jika suaminya memberikan kesenangan dan kepuasan pada salah satu kebutuhan cinta ini. Ia akan terbuka menyampaikan apa yang ia sukai, ketika suaminya mampu membuka percakapan dalam masalah ini secara tepat dan penuh kelembutan (tenderly).
6. Rapi dan Wangi
Seorang istri suka suaminya rapi. Rapi menata rambut dan rapi berpakaian, bahkan dalam suasana santai. Kerapian yang disukai adalah kerapian yang alami dan melekat dalam kehidupan suami.
Sikap suami yang kooperatif dalam menjaga kerapian rumah juga disukai seorang istri. Karenanya ketika seorang suami berinisiatif menyapu ruang tengah, membersihkan kompor di dapur, atau membersihkan kamar tidur dengan membongkar tempat tidur secara rutin ... pada semuanya ada apresiasi dari seorang istri.
Rapi, bersih dan wangi pada seorang suami membuat istrinya senang. Seorang suami bisa meminta istrinya memilihkan minyak wangi baginya. Ia akan terbantu menyempurnakan penampilan bagi istrinya.
7. Ceria dan Ramah
Senyum ceria dan keramahan amat dihajatkan seorang istri. Senyum dan keramahan itu laksana angin sejuk di tengah berbagai kelelahan dirinya. Berbagai kesibukan membuat jiwanya lelah. Interaksi dengan anak-anak di rumah itu bukan pekerjaan ringan. Segenap potensi kejiwaan dan pikiran mesti ia curahkan. Kelelahan fisik pun tidak ringan. Perhatikanlah, ia mesti terus memperhatikan anaknya yang terus bergerak kesana kemari, bereksplorasi ketika mulai bisa merangkak. Dan saat si anak lelah tertidur, ia mesti bersiap-siap memasak dan merapikan rumah bagi suaminya yang sebentar lagi pulang ...
Senyum dan sapaan sayang suami akan menjadi hiburan jiwa bagi sang istri. Sikap humoris juga amat membantu seorang istri untuk selalu menjaga suasana riang hatinya. Ini semua akan membantunya untuk terus bersabar dan ikhlas dalam menunaikan tugas-tugasnya.
8. Menjadi Pemimpin yang Melindungi
Istri membutuhkan perlindungan yang membuatnya senantiasa merasa tentram. Karenanya ia menyukai sifat kepemimpinan pada suaminya. Kepemimpinan yang ia harapkan adalah yang senantiasa menentramkan jiwanya, mengokohkan ruhaninya, memberikan pencerahan demi pencerahan pada akalnya dan membantu menjaga kebugaran dan kesehatan tubuhnya.
Kepemimpinan yang ia sukai adalah yang memadukan ketegasan dan kelembutan. Yang menebarkan cinta, bukan membuat takut. Yang mengedepankan kemauan baik, bukan senantiasa menggunakan otoritas (misalnya dengan selalu menggunakan kalimat "suami kan pemimpin rumah tangga, jadi mesti taat donk"). Yang betul-betul menjadi pemimpin, bukan menjadi boss.
***
Untuk karakter ke-8, saya teringat kalimat ini: Be a Leader, not a Boss ... yang diuraikan dalam kalimat-kalimat:
The boss drives his men;The leader inspires them.
The boss depends on authority; The leader depends on good will.
The boss evokes fear; The leader radiates love.
The boss says "I"; The leader says "WE".
The boss shows who is wrong; The leader shows what is wrong.
The boss knows how it is done; The leader shows how to do.
The boss abuses men; The leader uses them.
The boss demands respect; The leader commands respect.
The boss makes work drudgery; The leader makes it fine.
***
Dan melengkapi butir-butir sikap yang disukai istri dari suaminya, saya hantarkan bait-bait syair berikut:
sungguh-sungguh mencintai
adalah sungguh-sungguh memahami
kau dengarkan setiap pikiran dan suara hatinya
kau selami setiap mimpinya
kau beri ia sayap untuk terbang meraih cita-citanya
kau biarkan ia erat memelukmu
hingga kau tahu bagaimana ia ingin disentuh
dan kau akan dapat melihat cintanya
untukmu dan untuk anak-anakmu
pada sinar matanya
ketika kau mencintai
katakan bahwa kau mencintai
ketika kau mencintai
katakan bahwa ia begitu berarti
katakan behwa kesetiaan adalah sebuah janji
sungguh ia membutuhkan cinta yang tak pernah berhenti
ketika kau sungguh mencintainya
kau beri ia perlindungan dan kenyamanan
kau beri ia kepercayaan dan kelembutan
maka kau akan dapati ia pun menjagamu
dan senantiasa ada di sampingmu
dalam suka dan dukamu
***
Untuk sahabat sekalian, para suami, butir-butir sikap yang saya kompilasi di atas sekali lagi hanyalah SATU VERSI rangkaian sikap yang disukai seorang istri. Setiap manusia punya keunikan selera dan nilai rasa, begitu juga para istri. Semoga sharing ini bermanfaat.
Wa Allahu a'lamu bish shawwab.
Menilai kepribadian muslimah
KEUTAMAAN HIJAB
· HIJAB ITU ADALAH KETAATAN KEPADA ALLAH DAN RASUL.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَمَا كَانَ لمُؤْمِنٍ وَلاَ مُؤْمِنَةٍ إذاَ قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أمْرًا أنْ يَكُونَ لهُمُ الخِيَرَةُ مِنْ أمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُبِينًا
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’minah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 36)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan kaum wanita untuk menggunakan hijab sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluan-nya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Q.S An-Nur: 31)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلاَ تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الجَاهِلِيَّةِ الأُولَى
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah.” (Q.S. Al-Ahzab: 33)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ
“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 53)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ
“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Wanita itu aurat” maksudnya adalah bahwa ia harus menutupi tubuhnya.
· HIJAB ITU ‘IFFAH (KEMULIAAN)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kewajiban menggunakan hijab sebagai tanda ‘Iffah (menahan diri dari maksiat).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ياَ أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أدْنَى أنْ يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ
“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)
Itu karena mereka menutupi tubuh mereka untuk menghindari dan menahan diri dari perbuatan jelek (dosa), “karena itu mereka tidak diganggu”. Maka orang-orang fasik tidak akan mengganggu mereka. Dan pada firman Allah “karena itu mereka tidak diganggu” sebagai isyarat bahwa mengetahui keindahan tubuh wanita adalah suatu bentuk gangguan berupa fitnah dan kejahatan bagi mereka.
· HIJAB ITU KESUCIAN
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَإذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ
“Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 53)
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati hijab sebagai kesucian bagi hati orang-orang mu’min, laki-laki maupun perempuan. Karena mata bila tidak melihat maka hatipun tidak berhasrat. Pada saat seperti ini, maka hati yang tidak melihat akan lebih suci. Ketiadaan fitnah pada saat itu lebih nampak, karena hijab itu menghancurkan keinginan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ
“Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.” (Q.S. Al-Ahzab: 32)
· HIJAB ITU PELINDUNG
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalambersabda:
(إنَّ اللهَ حَيِيٌّ سَتِيرٌ يُحِبُّ الحَيَاءَ وَالسِّتْرَ)
“Sesungguhnya Allah itu Malu dan Melindungi serta Menyukai rasa malu dan perlindungan”
Sabda beliau yang lain:
(( أيَّمَا اِمْرَأَةٍ نَزَعَتْ ثِيَابَهَا في غَيْرِ بَيْتِهَا خَرَقَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهَا سِتْرَهُ))
“Siapa saja di antara wanita yang melepaskan pakaiannya di selain rumahnya, maka Allah Azza wa Jalla telah mengoyak perlindungan rumah itu dari padanya.”
Jadi balasannya setimpal dengan perbuatannya.
· HIJAB ITU TAQWA
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ياَ بَنِي آدَمَ قَدْ أنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْءَاتِكُمْ وَرِيشًا وَلِبَاسُ التَّقْوَى ذَلِكَ خَيْرٌ
“Hai anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik.” (Q.S. Al-A’raaf: 26)
· HIJAB ITU IMAN
Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak berfirman kecuali kepada wanita-wanita beriman: “Dan katakanlah kepada wanita yang beriman.” (Q.S. An-Nur: 31). Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Dan istri-istri orang beriman.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)
Dan ketika wanita-wanita dari Bani Tamim menemui Ummul Mu’minin, Aisyah ra dengan pakaian tipis, beliau berkata: “Jika kalian wanita-wanita beriman, maka (ketahuilah) bahwa ini bukanlah pakaian wanita-wanita beriman, dan jika kalian bukan wanita beriman, maka silahkan nikmati pakaian itu.”
· HIJAB ITU HAYA’ (RASA MALU)
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
((إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاءُ))
“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.”
Sabda beliau yang lain:
“Malu itu adalah bagian dari iman dan iman itu di surga.”
Sabda Rasul yang lain:
((الحَيَاءُ وَالإيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا ، فَإنْ رُفِعَ أحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَرُ))
“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.”
· HIJAB ITU GHIRAH (PERASAAN CEMBURU)
Hijab itu selaras dengan perasaan cemburu yang merupakan fitrah seorang laki-laki sempurna yang tidak senang dengan pandangan-pandangan khianat yang tertuju kepada istri dan anak wanitanya. Berapa banyak peperangan terjadi pada masa Jahiliyah dan masa Islam akibat cemburu atas seorang wanita dan untuk menjaga kehormatannya. Ali bin Abi Thalib Radiyallahu 'anhu berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa wanita-wanita kalian berdesak-desakan dengan laki-laki kafir orang ‘ajam (non Arab) di pasar-pasar, tidakkah kalian merasa cemburu? Sesungguhnya tidak ada kebaikan pada seseorang yang tidak memiliki perasaan cemburu.”
Beberapa syarat hijab yang harus terpenuhi:
1. Menutupi seluruh anggota tubuh wanita -berdasarkan pendapat yang paling rajih / terang
2. Hijab itu sendiri pada dasarnya bukan perhiasan.
3. Tebal dan tidak tipis atau trasparan.
4. Longgar dan tidak sempit atau ketat.
5. Tidak memakai wangi-wangian.
6. Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir.
7. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.
8. Tidak bermaksud memamerkannya kepada orang-orang.
JANGAN BERHIAS TERLALU BERLEBIHAN
Bila anda memperhatikan syarat-syarat tersebut di atas akan nampak bagi anda bahwa banyak di antara wanita-wanita sekarang ini yang menamakan diri sebagai wanita berjilbab, padahal pada hakekatnya mereka belum berjilbab. Mereka tidak menamakan jilbab dengan nama yang sebenarnya. Mereka menamakan Tabarruj sebagai hijab dan menamakan maksiat sebagai ketaatan.
Musuh-musuh kebangkitan Islam berusaha dengan sekuat tenaga menggelincirkan wanita itu, lalu Allah menggagalkan tipu daya mereka dan meneguhkan orang-orang Mu’min di atas ketaatan kepada Tuhannya. Mereka memanfaatkan wanita itu dengan cara-cara kotor untuk memalingkannya dari jalan Tuhan dengan memproduksi jilbab dalam berbagai bentuk dan menamakannya sebagai “jalan tengah” yang dengan itu ia akan mendapatkan ridha Tuhannya -sebagaimana pengakuan mereka- dan pada saat yang sama ia dapat beradaptasi dengan lingkungannya dan tetap menjaga kecantikannya.
KAMI DENGAR DAN KAMI TAAT
Seorang muslim yang jujur akan menerima perintah Tuhannya dan segera menerjemahkannya dalam amal nyata, karena cinta dan perhomatannya terhadap Islam, bangga dengan syariat-Nya, mendengar dan taat kepada sunnah nabi-Nya dan tidak peduli dengan keadaan orang-orang sesat yang berpaling dari kenyataan yang sebenarnya, serta lalai akan tempat kembali yang ia nantikan. Allah menafikan keimanan orang yang berpaling dari ketaatan kepada-Nya dan kepada rasul-Nya:
وَيَقُولُونَ آمَنَّا بِاللهِ وَبِالرَّسُولِ وَأَطَعْنَا ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرْيقٌ مِنْهُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ وَمَا أُولَئِكَ بِالمُؤْمِنِينَ (47) وَإذَا دُعُوا إلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ إذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ مُعْرِضُونَ (48) “
Dan mereka berkata:
“Kami telah beriman kepada Allah dan rasul, dan kami menaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.” (Q.S. An-Nur: 47-48)
Firman Allah yang lain:
إنَّمَا كاَنَ قَوْلَ المُؤْمِنِينَ إذَا دُعُوا إلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ المُفْلِحُونَ (51) وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللهَ وَيَتَّقِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الفَائِزُونَ (52)
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (Q.S. An-Nur: 51-52)
Dari Shofiyah binti Syaibah berkata: “Ketika kami bersama Aisyah ra, beliau berkata: “Saya teringat akan wanita-wanita Quraisy dan keutamaan mereka.” Aisyah berkata: “Sesungguhnya wanita-wanita Quraisy memiliki keutamaan, dan demi Allah, saya tidak melihat wanita yang lebih percaya kepada kitab Allah dan lebih meyakini ayat-ayat-Nya melebihi wanita-wanita Anshor. Ketika turun kepada mereka ayat: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (Q.S. An-Nur: 31) Maka para suami segera mendatangi istri-istri mereka dan membacakan apa yang diturunkan Allah kepada mereka. Mereka membacakan ayat itu kepada istri, anak wanita, saudara wanita dan kaum kerabatnya. Dan tidak seorangpun di antara wanita itu kecuali segera berdiri mengambil kain gorden (tirai) dan menutupi kepala dan wajahnya, karena percaya dan iman kepada apa yang diturunkan Allah dalam kitab-Nya. Sehingga mereka (berjalan) di belakang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalamdengan kain penutup seakan-akan di atas kepalanya terdapat burung gagak.”
Kamis, 06 September 2007
SEJARAH MINANGKABAU
SEJARAH MINANGKABAU
Asal-usulnya menurut Tambo Alam Minangkabau
Tiga anak dari Raja Iskandar Zulkarnain (Alexander Agung) dari Makadunia (Macedonia) iaitu Maharajo Alif, Maharajo Japang dan Maharajo Dirajo berlayar bersama, dan saat dalam perjalanan mereka bertengkar sehingga mahkota kerajaan jatuh ke dalam laut. Maharajo Dirajo yang membawa Cati Bilang Pandai –seorang pandai emas- berhasil membuat satu serupa dengan mahkota yang hilang itu. Mahkota itu lalu ia serahkan kepada abang-abangnya, tetapi mereka mengembalikannya kepada Maharajo Dirajo karena ia dianggap yang paling berhak menerima, iaitu karena telah berhasil menemukannya. Mereka adik beradik lalu berpisah. Maharajo Alif meneruskan perjalanan ke Barat dan menjadi Raja di Bizantium, sedang Maharajo Japang ke Timur lalu menjadi menjadi Raja di China dan Jepang (Jepun), manakala Maharajo Dirajo ke Selatan sedang perahunya terkandas di puncak Gunung Merapi saat Banjir Nabi Nuh melanda. Begitu banjir surut, dari puncak gunung Merapi yang diyakini sebagai asal alam Minangkabau turunlah rombongan Maharajo Dirajo dan berkampung disekitarnya. Mulanya wujud Teratak lalu berkembang menjadi Dusun lalu jadi Nagari lalu jadilah Koto dan akhirnya menjadi Luhak. Daerah Minangkabau yang asal adalah disekitar Merapi, Singgalang, Tandikat dan Saga. Semuanya terbagi atas 3 Luhak atau Luhak Nan Tigo. Luhak ini membawahi daerah Rantau. Jadi ada 3 luhak dengan 3 rantau :
1. Luhak AGAM berpusat di BUKITTINGGI dengan Rantau PASAMAN
2. Luhak TANAHDATAR berpusat di BATUSANGKAR dengan Rantau SOLOK
3. Luhak LIMAPULUH KOTA berpusat di PAYA KUMBUH dengan Rantau KAMPAR
Batas Alam Minangkabau menurut Tambo :
“Dari Riak nan Badabua, Siluluak Punai Maif,
Sirangkak nan Badangkuang, Buayo Putiah Daguak,
Taratak Aie Hitam, Sikilang Aie Bangih , Hingga Durian Ditakuak Rajo”
“Dari Riak nan Berdebur, Siluluk Punai Maif,
Sirangkak nan Berdengkung, Buaya Putih Daguk,
Teratak Air Hitam, Sikilang Air Bangis , Hingga Durian Ditekuk Raja”
Tafsiran dari ‘Riak nan Berdebur’ adalah daerah Pesisir Pantai Barat iaitu wilayah dari Padang hingga Bengkulu; sedangkan ‘Teratak Air Hitam’ adalah Rantau Timur sekitar Kampar dan Kuantan (sekarang di Riau). Ini sesuai penjelasan bahwa selain 3 Luhak dan 3 Rantau diatas yang disebut ‘Darek” atau “Darat”, Minangkabau mempunyai daerah Rantau luar iaitu Rantau Pesisir Barat dan Rantau Timur dengan wilayah :
1. RANTAU PESISIR BARAT (Pasisie Barek): Sikilang Air Bangis, Tiku Pariaman, Padang, Bandar Sepuluh, Air Haji, Inderapura, Kerinci (kini masuk Jambi) dan Muko-muko (Bengkulu).
2. RANTAU TIMUR : Daerah hilir sungai-sungai besar Rokan, Siak, Tapung, Kampar dan Inderagiri (Kuantan), kesemuanya kini masuk di Riau.
Asal-usulnya menurut Sejarawan
Senarai kerajaan di Sumatra yang merupakan cikal-bakal Kerajaan Minangkabau mulai zaman Hindu-Budha Abad 7 adalah :
1. KERAJAAN MALAYU (Melayu Tua) terletak di Muara Tembesi (kini masuk wilayah Batanghari, Jambi). Berdiri sekitar Abad 6 – awal 7 M
2. KERAJAAN SRIWIJAYA TUA terletak di Muara Sabak (kini masuk masuk wilayah Tanjung Jabung, Jambi). Berdiri sekitar tengah Abad 7 – awal 8 M
3. KERAJAAN SRIWIJAYA di Palembang, Sum. Selatan. Akhir abad 7 - 11 M
4. KESULTANAN KUNTU terletak di Kampar, sekitar Abad 14 M
5. KERAJAAN MALAYU (Melayu Muda) atau DHARMASRAYA terletak di Muara Jambi, abad 12-14 M. Tahun 1278 Ekspedisi Pamalayu dari Singasari di Jawa Timur menguasai kerajaan ini dan membawa serta putri dari Raja Malayu untuk dinikahkan dengan Raja Singasari. Hasil perkawinan ini adalah seorang pangeran bernama Adityawarman, yang setelah cukup umur dinobatkan sebagai Raja Malayu. Pusat kerajaan inilah yang kemudian dipindahkan oleh Adityawarman ke Pagaruyung dan menjadi raja pertama sekitar tahun 1347
PAGARUYUNG (1347-1809)
Adityawarman meninggalkan banyak prasasti –terbanyak bahkan jika dibanding periode Raja-raja Sri Wijaya. Ia menyebut dirinya sebagai ‘Kanakamedinindra” (Penguasa Tanah Emas). Dan memang Kerajaan Pagaruyung menguasai perdagangan lada/rempah dan emas terutama di Rantau Timur dan dijual ke daerah luar melalui pesisir barat, dimana para pedagang datang dari Aceh Tamil, Gujerat dan Parsi untuk dijual di pasaran dunia. Secara berangsur-angsur kerajaan Pagaruyung mulai mundur kira-kira pada abad 15, sehingga peranan daerah Rantau Pesisir yang berupa kota-kota pelabuhan di pantai barat Sumatra justru semakin berkembang. Pada saat inilah Aceh yang tengah berada pada puncaknya masuk sekitar tahun tahun 1640 disertai masuknya ajaran Islam. Pada akhir abad 16, Pagaruyung sudah tidak utuh lagi, kekuasaan raja tidak mutlak.
Yang Dipertuan Pagaruyung sebagai Raja Alam membahagi kekuasaannya pada 2 Raja yang lain iaitu Raja Adat yang berkedudukan di Buo, dan Raja Ibadat di Sumpur Kudus. Kesatuan tiga raja disebut “Rajo Nan Tigo Selo”. Sedangkan yang menjalankan kekuasaan Lembaga eksekutif -disebut “Baca Ampek (Empat) Balai”- terdiri 4 Datuk dengan 1 Datuk penguat iaitu :
1. Datuk Bandaharo (Menteri Utama & Keuangan) di Sungai Tarab
2. Tuan Indomo (Menteri Adat) di Suruaso
3. Tuan Makhdum (Menteri Kerajaan Wilayah Rantau) di Sumanik
4. Tuan Kadi (Menteri Agama) di Padang Ganting, diperkuat oleh
5. Tuan Gadang (Menteri Keamanan & Pertahanan) di Batipuh
Semua berada di Luhak Tanah Datar. Pada abad 17-18, Siak di Rantau Timur mulai melepaskan diri dan mengembangkan kekuasaannya ke utara hingga ke Rokan, Panai, Bilah, Asahan dan Tamiang. Hal ini dimungkinkan oleh kuatnya kerajaan Siak dalam perdagangan dengan Melaka dan Belanda, disamping mulai merosotnya Aceh sesudah Sultan Iskandar Muda mangkat di tahun 1639.
Perluasan daerah rantau kemudian menyeberangi Selat Melaka sehingga jadilah Negeri Sembilan di Semenanjung. Rantau Pesisir Barat yang telah dikuasai Aceh tidak lagi setia kepada Pagaruyung dimana gerakan pemurnian Islam berpusat di Bonjol kelak akan muncul. Rantau Daerah Timur bagaimanapun masih tetap patuh dan setia. Yang Dipertuan Raja Alam Pagaruyung pergi ke rantau-rantau ini untuk mengumpul upeti (ufti) 3 kali setahun. Ini berlangsung sampai dengan kebangkitan pemurnian Islam yang memecah Minang menjadi 2 iaitu Kaum Putih/Paderi (Pemurnian Islam) dan Kaum Hitam (Adat), mereka terlibat pertempuran dalam Perang Paderi. 2 Luhak iaitu Agam dan Limapuluh Kota telah tunduk kepada Kaum Putih, tetapi Luhak Tanah Datar bertahan hingga dihancurkan oleh pasukan Paderi dari Tuanku Lelo pada tahun 1809. Munculnya Belanda ke Ranah Minang akhirnya justru menjadi pemenang atas situasi tadi, setelah Pasukan Paderi yang menang Perang Paderi melawan Kaum Adat dihancurkan Belanda.
Bagaimana pun selanjutnya Islam tetap menjadi pedoman Adat Minangkabau, dimana setiap Adat yang tidak sesuai dengan Syarak (Hukum Islam) akan dibuang. Sehingga jadilah pedoman berzaman yang berbunyi “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”. Adat haruslah bersendi atau tunduk kepada Hukum Allah.
Awabg Abu Hezqiyal B Maryoto- Dec’2005
SUMBER :
-Sejarah Minangkabau, MD Mansur – Bharata, Jakarta
-Dasar Falsafah Adat Minangkabau, Muhammad Nasrun – Bulan Bintang, Jakarta
Kisah_Nyata_Setelah_48_Tahun_Akhirnya_Kutemukan_Keluargaku
Pukul 14.32 WIB, tanggal 21 Maret 1995, pesawat Qantas yang membawaku dari Sidney Australia mendarat di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng. Setelah mengemasi kopor dan melewati pemeriksaan imigrasi, kudorong troli barang-barang bawaanku menuju Pintu 2 Terminal kedatangan.
Sambil menegok ke sana-sini, langkah kaki pun kuperlambat. Kuamati setiap orang yang memegang kertas bertuliskan nama orang yang dijemputnya. Tapi di antara kerumunan orang disitu tak satu pun yang memajang kertas bertuliskan namaku. Rasa cemas segera melanda. Entah berapa kali keberjalan hilir mudik di sekitar itu kembali tak satu pun tanda-tanda ada orang yang mencariku.
“
Kemudian kuputuskan untuk menelepon salah satu nomor yang kudapat. Ini pun tak mudah karena aku tak menguasai bahasa
Rasa gelisah dan khawatir yang sempat menghantuiku selama di dalam pesawat kembali datang. “ akankah mereka menerima diriku? Kecewakah mereka setelah melihatku nanti? Apakah mereka mempunyai cukup banyak informasi tentang ayahku?”
Satu jam lebih berlalu sudah, aku masih belum beranjak dari bandara. Rasa frustasi akhirnya menyerang. Aku bingung. Aku sedih. “ Seharusnya tak kubiarkan harapanku melambung tinggi…,” sesalku dalam hati.
Akhirnya aku hanya duduk berdiam diri. “Pupus sudah harapanku…Rupanya pertemuan ini hanyalah angan-anganku semata…” tak terasa air mata pun menetes. Hatiku pedih sekali.
Tiba-tiba, dari jauh kudengar seorang pria berteriak memanggil namaku. “Nooraya!” Aku tersentak, tangisku langsung berhenti. Begitu kulihat pria itu, aku teringat salah satu foto keluarga yang pernah dikirimkan kepadaku beberapa hari sebelum keberangkatanku ke
Yang menggembirakan, ternyata ia tidak menjemputku seorang diri. Satu persatu sepupu dan paman serta bibiku berhambur memelukku. Air mata tak sanggup lagi kubendung. Aku merasa bahagia dan terharu. “Terima kasih Tuhan…, akhirnya setelah 48 tahun berhasil juga kutemukan keluargaku…”
Ayahku tawanan perang Digul
Aku lahir di Melbourne tanggal 11 Oktober 1947. ayahku seorang pria
Ibu tak pernah bercerita banyak tentang Ayah. Ia hanya mengatakan bahwa ayahku seorang pahlawan. Ayah ikut berjuang untuk kemerdakaan bangsanya. Itu saja. Aku tak pernah tahu kapan dan dimana tepatnya mereka bertemu. Sepertinya Ibu selalu bersedih jika kutanya tentang Ayah dan kelihatannya ia tak ingin membicarakannya. Ketika aku tumbuh menjadi gadis kecil, aku pun tak pernah bertanya lagi tentang ayahku. Aku tahu itu akan membuatnya sangat sedih. Aku pun tak pernah mempermasalahkan hal itu lagi. Keadaanlah yang membuatku demikian. Selain kami tak punya orang yang bisa dihubungi di Indonesia, teman-temanku semuanya pun orang Australia sehingga tak pernah membuatku berpikir tentang Indonesia. Akhirnya aku pun tumbuh menjadi orang Australia.
Belakangan, barulah kutahu mengapa Ibu selalu menutup diri tentang Ayah. Rupanya, pernikahan Ayah dan Ibu tak pernah mendapat restu dari Nenek dan tanteku dari pihak Ibu (namanya sama dengan Ibu yaitu Jean, kini berusia 86 tahun). Mereka berdua marah terhadap Ibu. Mereka tak setuju Ibu menikah dengan Ayah karena Ayah berasal dari Asia, dan bukan orang kulit putih. Apalagi Ayah pernah menjadi tahanan Belanda dan dianggap lari dari negaranya. Mereka percaya bahwa orang-orang pendatang seperti Ayah, tidak sebaik dan sepandai orang kulit putih. Menurut mereka, orang seperti Ayah adalah orang primitif! Meyedihkan sekali nasib Ibu maupun ayahku.
Bersama dengan 500 tawanan perang lainnya, Ayah dibawa tentara Belanda ke Australia setelah 14 tahun ditahan di Digul. Ketika itu, Belanda berhasil diusir dai Indonesia oleh Jepang tahun 1942. Ketika di Melbourne Ayah merupakan pemimpin The Local Indonesian Independence Committee yang terbentuk tahun 1944 dan mempunyai cabang di beberapa tempat lain seperti Sidney. Walau tidak berada di negaranya, Ayah tetap aktif berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.
Ibu juga menjadi anggota The Australia-Indonesia Association (dibentuk bulan Agustus 1945). Ketika itu orang Australia memang banyak yang mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia atas Belanda. Banyak demonstrasi-demonstrasi menentang penjajahan Belanda. Sekitar tahun 1944 kedua orang tuaku menikah. Tiga tahun kemudian Ayah di deportasi dari Australia.
Yang membuatku marah, sedih, bercampur dendam adalah karena peristiwa pendeportasian itu terjadi akibat laporan dari Nenek dan Tante Jean kepada pihak imigrasi Australia. Saat itu Australia memberlakukan White Australi Policy, dimana semua pendatang dari Asia dan Afrika yang menetap di Australia harus meniggalkan Australia.
Andai Nenek dan Tante Jean tidak mengadu, mungkin aku masih sempat bertemu dengan Ayah. Sebab kira-kira satu setengah tahun sekembalinya Ayah di Indonesia, Ayah meninggal dunia. Kabar itu diketahui Ibu dari radio. Tapi tak lama kemudian Ibu menerima surat dari pihak Belanda disertai keterangan dari dokter yang menyatakan bahwa Ayah meninggal dunia karena kanker, bisa kubayangkan betapa sedihnya Ibu saat itu.
Sebatang kara
Setelah Ayah meninggal, Ibu bekerja sebagai perawat. Karena kehidupan yang sangat miskin, sedangkan Ibu harus melahirkanku maka tak ada pilihan lain, ibu terpaksa tinggal dengan Tante Jean. Mereka berdua merawatku sejak aku bayi, tapi mereka tak pernah membicarakan tentang Ayah sedikit pun.
Tante Jean memang sangat mencintaiku akan tetapi menurutku tidak secara normal. Ia terlalu keras terhadapku. Ia seperti merasa juga memilikiku, selalu mengharapkan aku melakukan segala hal yang diinginkannya. Akhirnya aku merasa ia tidak seperti keluarga bagiku. Setiap saat ia terlalu mengontrolku, mungkin karena sikapnya ini pula ia menjadi sangat marah ketika Ibu menentangnya dengan menikah dengan Ayah.
Ketika usiaku 12 tahun, Ibu menikah kembali dengan pria Australia dan mengubah namanya dari Jean Zakaria menjadi Jean Cully, Ibu pikir pernikahannya itu baik untukku, aku bisa mempunyai seorang Ayah. Tapi nyatanya…., pernikahan itu tidak berhasil. Ibu tidak bahagia dengannya, begitu juga aku. Aku tak pernah bisa mencintai ayah tiriku. Ia tidak menyukai anak-anak. Selama jadi ayah tiriku ia sama sekali tak pernah bercakap-cakap denganku apalagi memberi perhatian kepadaku. Ia tak pernah peduli tentang diriku.
Kehadiran ayah tiriku pun mempengaruhi hubunganku dengan Ibu, Aku merasa tak bisa lagi sedekat dulu dengan Ibu. Rasanya kebahagiaanku sebelum ini musnah direnggutnya. Akibatnya aku tidak betah tinggal di rumah. Usia 18 aku meninggalkan rumah. Untuk bisa bertahan hidup aku bekerja di University of South Australia. Uang hasil jerih payahku kukumpulkan lalu kugunakan untuk biaya kuliahku disitu. Karena nilai-nilaiku selalu memuaskan aku berhasil mendapatkan beasiswa.
Tahun 1967 akhirnya Ibu berpisah dengan ayah tiriku. Pernikahan mereka tak membuahkan keturunan. Aku tahu, Ibu selalu teringat akan almarhum Ayah. Ibu selalu teringat akan almarhum Ayah. Ibu terlalu mencintainya dan tak mampu melupakannya.
Tahun 1969, nenek meninggal dunia. Sepuluh tahun kemudian Ibu yang kusayangkan jatuh sakit, dan akhirnya meninggalkanku untuk selama-lamanya. Hatiku sakit, pedih rasanya…Kasihan Ibu, seumur hidupnya sepeninggal Ayah, Ibu tak pernah merasakan kebahagiaan.
Kini tak ada lagi orang yang kusayang dan menyayangiku. Walau masih ada Tante Jean (ia tak mempunyai keturunan karena tak pernah menikah) aku merasa hidup sebatang kara di dunia ini. Tapi keadaan ini cukup membantuku, dengan ringan hati pada tahun 1976 kutinggalkan Australia untuk hidup di Inggris. Di situ aku bekerja selama tiga tahun.
Ahun 1979 aku kembali ke Austalia dan tinggal di Cenral Australia di sebuah gurun bersama-sama masyarakat Aborigin. Di tempat ini aku mengajarkan mereka membaca dan menulis bahasa Aborigin dan juga bahasa Inggris. Di situlah aku bertemu dengan Philip dan kemudian menikah dengannya.
Setahn kemudian lahirlah putraku. Untuk mengenang Ayah, kuberi nama Philip Zakaria. Ketika Philip lahir Ibu masih ada. Saat itu aku tahu betapa besar cinta Ibu kepada Ayah. Aku masih ingat pertanyaan Ibu sesaat setelah Philip lahir,
“Apakah rupa cucuku seperti kakeknya?”.
Sayang pernikahanku itu tidak bertahan lama. Kami berpisah tapi tetap berteman baik. Philip tetap rajin menemui putranya.
Sejak tahun 1980 aku selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Selama tiga tahun aku pernah menetap di RRC dan bekerja sebagai guru bahasa di Kunming Teachers University dan Shanghai Teacers College. Dari situ aku kembali ke Inggris selama setahun baru kembali lagi ke Australia. Tahun 1991 aku berhasil meraih gelar Master dari Monash University, Australia.
Dari situ, aku kembali berkelana. Aku mengajar bahasa Inggris di University of Pnom Penh, Kamboja selama setahun. Awal tahun 1993 aku pergi ke Vietnam. Di situ aku bekerja sebagai konsultan bahasa. Karena mendapat bea siswa mengambil gelar PhD di bidang Linguistik dan Pendidikan dari Monash University, aku pun kembali ke Australia. Kini tinggal setahun lagi aku bisa meraih gelar Doktor ku.
Keajaiban sebuah nama
Namaku sesungguhnya Nooraya Zakaria. Aku tak pernah tahu pasti bagaimana Ibu bisa memberiku nama indah ini. Mungkin sebelum berpisah, Ayah dan Ibu pernah membicarakan hal ini. Tapi belakangan yang kutahu, Nooraya adalah nama adik perempuan Ayah yang paling disayanginya.
Tapi, tanpa perasaan Nenek dan Tante Jean mengubah namaku menjadi Patty Edgar. Mungkin mereka malu diketahui orang bahwa ayahku bukan orang kulit putih dan berusaha menghapus asal-usulku. Akhirnya sejak kecil teman-teman selalu memanggilku Patty.
Usia 18, ketika aku berniat membuat surat izin mengemudi kuubah namaku kembali menjadi Nooraya Zakaria karena itulah namaku sesungguhnya yang tercantum di akte kelahiranku. “Nooraya…Namamu indah sekali,” puji salah seorang pegawai ketika aku mengurus SIM-ku. Ironisnya ia tetap memanggilku ‘Patty’ seperti teman-teman sekolahku memanggilku. Tapi, sejak itu teman-teman tidak lagi memanggilku dengan nama Patty Edgar, bukan juga Nooraya Zakaria melainkan Patty Zakaria. Hanya beberapa teman Indonesiaku di Melbourne yang mengetahui namaku Nooraya Zakaria, padahal berkat nama inilah aku berhasil menemukan keluargaku.
Ketika bekerja di Cina, pernah kubaca sebuah majalah yang menulis artikel tentang Molly Bondan. Ia seorang wartawan Australia yang menikah dengan pria Indonesia bernama Muhammad Bondan pada tahun 1940. Tahun 1947, mereka kemudian menetap di Jakarta. Dari situ, aku langsung teringat bahwa wanita ini adalah salah satu teman Ibuku yang juga ikut mendukung perjuangan orang Indonesia menentang penjajahan atas Belanda. “Mungkin dari dia aku bisa mencari tahu tentang Ayah,” pikirku dengan hasrat menggebu. Selama hidupnya, Ibu memang belum pernah mengetahui perihal keluarga Ayah.
Molly ternyata berbaik hati mempertemukanku dengan dua pria tua yang pernah dibuang ke Digul, mereka pernah mengenal ayahku. Sayangnya yang mereka ketahui tentang Ayah sedikit sekali. Aku sudah berusaha keras untuk bisa mengerti apa yang mereka katakan sebab mereka tak bisa berbahasa Inggris. Mereka hanya bisa bercerita bahwa ayahku seorang pemancing yang ulung, dan pandai menari tarian tradisional. Hanya itu saja. ketika kutanya, “Dimana tempat tinggal Ayah, berapa jumlah saudaranya, apakah mereka masih ada?” Ternyata mereka hanya menggeleng kepala. Badanku terasa lemah lunglai, aku kecewa sekali. Bisakah kutemukan keluargaku?
Yang berhasil kudapat hanya satu informasi bahwa Ayah berasal dari Minangkabau. Tadinya aku nekad untuk hendak pergi kesana. Tapi ada yang mengingatkanku bahwa itu sulit sekali. Dengan informasi minim dan aku tak bisa berbahasa Indonesia rasanya mustahil. Aku hanya akan mencari-cari kesulitan saja, kata mereka.
“Apa yang mereka katakan mungkin ada benarnya. Ayah meninggal tahun 1948, itu sudah 38 tahun yang lalu. Jika Ayah mempunyai saudara kandung, mereka pasti sudah tiada. Jika keluarganya masih ada, mereka juga pasti tak ingat lagi tentang ayahku, apalagi perihal keberadaanku, mereka pasti tak pernah mengetahuinya,” pikirku dengan putus asa. Lalu aku pun kembali ke Australia dengan perasaan lunglai.
Akhirnya aku pasrah. Kuterima kenyataan bahwa aku hidup sebatang kara di duia ini. Selain putraku dan Tante Jean, tak ada sanak keluarga lain yang kumiliki. Sejak itu aku tak pernah lagi berminat mencari keluargaku yang lain apalgi bisa menjumpai makam Ayah.
Tabir pun Terkuak
Kira-kira bulan Oktober 1994, aku diundang seseorang untuk bertemu Zainudin, orang Indonesia asal Minangkabau yang telah lama menetap di Melbourne dan menikah dengan wanita Australia. Serasa seperti mimpi aku diberitahu bahwa aku mempunyai sepupu di Jakarta. Lebih kaget lagi ketika dikatakan bahwa sepupuku Noerhamidar sejak tahun 1954 berusaha mencari-cariku. Benarkah semua ini?
Akhir Februari 1995 (sekitar seminggu sebelum Hari Raya Idul Fitri) aku menerima telepon dari Jakarta. Aku tersentak! “Bisa bicara dengan Nooraya?” tanya suara itu. Mendengar pertanyaan itu jantungku tiba-tiba berdetak keras. “Ia tahu nama asliku?!” tanyaku dalam hati, sebab hanya beberapa teman di Melbourne yang tahu tentang nama ini. “Mungkinkah ia keluargaku?” Tapi spontan kujawab, “Saya Nooraya”. Langsung suara diseberang terdengar begitu gembira. “Saya Julius, saudara sepupumu, Nooraya.” Mendengar itu aku merasa seperti sedang bermimpi. “benarkah keluargaku?” Aku merasa belum yakin. Julius kemudian bercerita, ternyata ia tahu banyak tentang ayahku. Air mata langsung menetes deras dipipi. Aku begitu terharu, tak sanggup berkata-kata lagi. Kini tabir pun mulai terkuak.
Ketika berbicara dengan Julius pun aku masih terbata-bata. Dari Julius aku tahu bahwa kini aku tidak sendirian lagi di dunia ini, masih ada sekitar 200 keluargaku lagi di Indonesia. Julius juga mengundangku datang ke Indonesia bertepatan dengan pernikahan salah satu keponakan kami tanggal 25 Maret tahun ini di Jakarta.
“Kamu bagian dari keluarga kami, kamu harus datang di upacara pernikahan itu nanti. Semua keluargamu menunggu untuk berjumpa denganmu,” kata Julius. Tentu saja langsung kujawab, “Ya!”, walaupun hal ini tidak mudah bagiku. Aku tidak bisa meninggalkan kuliahku begitu saja, lagipula aku bukanlah orang kaya. Karena melanjutkan kuliah aku tidak bisa lagi bekerja. Kuliahku kali ini pun berkat beasiswa dari pemerintah, dan jumlah yang kuterima pun tidak besar. Tapi keinginan untuk bertemu keluargaku begitu besar. Kemudian kutemui seorang pembimbing kuliahku dengan terus terang kuceritakan semua yang terjadi pada diriku. “Kamu harus pergi. Menemukan keluargamu jauh lebih penting untuk hidupmu,” katanya mendukungku.
Akhirnya aku mendapat izin meninggalkan kuliah selama tiga minggu. Dari seseorang, aku pun berhasil mendapatkan pinjaman untuk biaya perjalananku ke Jakarta. Philip putraku tidak bisa ikut serta, ia sedang menjalani tahun pertama kuliahnya di Canbera University, dimana ia mendapatkan beasiswa dari pemerintah karena termasuk murid terpandai se Australia. Ia memang pandai, sepandai kakeknya.
Setelah kutahu tentang keluargaku dari Julius, kucari barang-barang peninggalan Ibu. “Mungkin aku bisa mencari jejak-jejak Ayah dari sit, “harapku. Ternyata benar, aku berhasil menemukan sebuah kotak milik Ibu yang disembunyikan di garasi.
Didalam kotak itu kutemukan foto Ayah dan Ibu, foto aku ditimang Ibu ketika masih bayi. Kutemukan pula enam helai surat Ayah yang dikirim untuk Ibu sejak Ayah harus meninggalkan Australia. Selain itu, kutemukan pula catatan-catatan kecil yang dibuat Ayah dan sepotong pakaian Ayah yang warnanya telah memudar karena sudah tua. Aku terharu, sungguh besar cinta Ibu kepada Ayah. Semua benda peninggalan Ayah dengan rapih disimpannya seklai pun Ibu sempat meikah lagi.
Di dalam suratnya, Ayah merasa gembira bisa kembali ke Indonesia setelah terkungkung sejak tahun 1926. Ayah juga bercerita tentang perjalanannya kembali ke Indonesia, tentang penjajah Belanda dan tentang pergerakan kemerdekaan. Surat-suratnya penuh dengan informasi politik.
Di salah satu suratnya ayah menulis bahwa ia meminta Ibu untuk tetap di Australia untuk melahirkanku. Jika keadaan di Indonesia sudah membaik, Ibu bisa menjumpai Ayah dan datang ke Indonesia. Setelah membaca surat-surat Ayah, aku tahu betapa Ayah sangat mencintai Ibu. Setiap hari Ayah selalu teringat akan Ibu dan menginginkan bisa ada disisinya. Hatiku sedih, mengapa selama ini aku tak pernah tahu tentang hal ini. Andai semua ini kutemukan sejak dulu, mungkin sudah lama bisa kutemukan keluargaku. Mungkin Ibu juga masih sempat bertemu dengan keluarga Ayah sebelum ia dan juga adik-adik Ayah menutup mata. AKu sangat menyesal kenapa semua ini terlambat. Yang beruntung hanyalah aku, Ibu tak pernah merasakan kebahagiaan ini. Kasihan Ibu…, jika sepanjang hidupnya bahagia bukanlah masalah, tapi Ibu tak pernah bahagia sampai ia tiada.
Tanggal 21 Maret 1995 yang lalu impian itu pun menjadi nyata. Saat-saat paling membahagiakan dan mengharukan terjadi, aku bisa berjumpa dengan keluargaku. Ternyata semua keluargaku tahu tentang ayahku dan sangat menghormatinya walau mereka tak pernah bertemu dengannya. Aku bangga dengan Ayah… Aku bangga menjadi anak Minang. Setelah kuselesaikan kuliahku kali ini aku berniat tinggal di Jakarta. Aku juga berniat membuat penelitian sejarah ayahku dan ingin menulisnya menjadi sebuah buku kenangan yang indah.
(seperti yang di ceritakan oleh Nooraya Zakaria dan dimasukkan kedalam “Kisah Sejati” Majalah Femina” tahun 1995)
Zakaria (ayah dari Nooraya Zakaria) adalah putra Muara Labuh Solok Selatan. Ia adalah anak pertama dari delapan bersaudara. Sampai saat ini masih ada satu orag adik perempuannya yang masih hidup.
Dikirim oleh Ahmad Reza (www.solok-selatan.com






